Pages

Tuesday, March 24, 2020

Day 24 Journey


IBIS:Ia membuat pakaian dan ikat pinggang lalu menjualnya kepada pedagang.

ITB:Ia membuat pakaian dari lenan, dan menjualnya, ia menyerahkan ikat pinggang kepada pedagang.

MSG: She designs gowns and sells them, brings the sweaters she knits to dress shops.

CEV: She makes clothes to sell to the shop owners.

AMP: She makes fine linen garments and leads others to buy them; she delivers to the merchants girdles (or sashes that free one up for service).

Dalam bahasa aslinya, yakni bahasa Ibrani, kata ‘ikat pinggang’ adalah ‘chagor’ yang berarti ‘berikatpinggangkan’. Dalam versi amplified(AMP) kata ini diterjemahkan “girdles” artinya ikat pinggang yang membebaskan orang yang mengenakannya untuk bekerja dengan leluasa. Saya jadi teringat wanita Jepang dengan kimononya yang menjuntai indah, dengan potongan lengan seperti sayap kupu-kupu. Saat mereka bekerja menimba air, atau memasak, mereka memakai sejenis obi (ikat pinggang yang mengikat lengan menjuntai daripada kimono) yang akan memudahkan mereka bergerak serta bekerja dengan leluasa. 

Pernahkah anda menjumpai wanita yang merasa ia tak layak untuk melayani Tuhan? Ia mungkin terikat oleh dosa-dosa masa lalunya. Ia mungkin butuh seorang mentor yang dapat membantunya menemukan ‘ikat pinggang’ yang akan memerdekakannya (membuatnya leluasa) untuk melayani Tuhan. Bersediakah anda untuk membantu wanita-wanita terbelenggu ini menemukan ‘ikat pinggang’ nya yang akan membebaskan mereka dari belenggu iblis? 

Cara lainnya untuk memahami teks ini adalah dengan memandang wanita ini sebagai seorang pengusaha. Ia punya bisnis yang dijalankannya sendiri, namun dapat kita lihat dari ayat-ayat sebelumnya bahwa ia tidak melupakan Tuhannya, keluarganya, atau rumahtangganya demi mengejar karirnya. Ia punya urutan prioritas yang benar. Tuhan pertama, suami kedua, anak ketiga, rumah keempat, bisnis dan karir kelima.

Ada seorang penulis buku yang saya kenal, ia memilih untuk tidak berjualan bukunya. Ia hanya murni menulis naskah dan menyetor ke penerbit. Ia produsen tulisan, ia tidak sanggup jika disuruh berjualan bukunya. Itu akan sangat menyita waktunya katanya. Ia perlu terbebas dari banyak hal yang menyita waktunya dari prioritas utamanya yakni peran sebagai istri , ibu dan mengurus rumah tangganya. 

Juga disiratkan bahwa pakaian yang dihasilkannya terbuat dari kualitas terbaik (fine linen).  Barang-barang milik wanita Amsal 31 ini punya kualitas indah dan dicari-cari oleh para pedagang. Ia terkenal dengan reputasinya menghasilkan barang-barang berkualitas. Para pedagang tahu mereka dapat mempercayainya membuat barang yang punya bernilai jual tinggi serta berkualitas tinggi (awet).

Apapun jenis home business yang kita terjuni, pastikan bisnis itu tidak merenggut kehadiran kita dari peran utama kita sebagai istri dan ibu. Hikmat untuk mengatur prioritas waktu, energi amatlah penting. 

Ada satu hal lagi yang perlu dipikirkan, saat kita sungguh mengelola bisnis sampingan/rumahan kita, itu bisa menjadi pegangan untuk masa pensiun suami kelak. Ada seorang wanita curhat begini ke saya: "gue mah bisnis online ini iseng doank, biar ga bosen. Soalnya bisa gila gue klo ngurusin anak muluk..gue ga nyari untung. Gue mah jawabin chat customer gitu uda senang. Hiburan gue , bisa lari sejenak dari rutinitas" 
Saya tidak mau menghakimi wanita ini. Oh sama sekali tidak! I can feel her, saya pernah di posisi dia. Ingin rasanya kabur dari rutinitas sejenak. Tetapi bisnis bukanlah cara "lari" dari tanggung jawab! Saat seperti ini, sikao hati saya sedang ngaco. Saya tidak menikmati peran saya sebagai ibu. Kembali lagi ke prioritas, mungkin kita kurang dosis  "God time", sampai-sampai hati ini teriak terus butuh "me time". Saat saya memprioritaskan yang utama: mendahulukan waktu teduh saya (baca: God time), saya malah jadi jarang merasa butuh me time yang aneh-aneh. First things first!

Akan selalu ada orang lain untuk menggantikan peran saya secara profesional, namun tidak akan ada yang bisa menggantikan peran kita sebagai istri dan ibu. 

Pertanyaan untuk direnungkan:
Apakah saya sudah mendahulukan hal-hal yang prioritas dalam hidup saya? 


No comments: